Jatuh…

Kok di artikel sebelumnya ada kata-kata ‘jatuh’ (disini) ?… Iya nih, lagi jobless, lagi ndak ada proyek juga. Efek covid19 ? Salah satunya itu. Jujur saja sebelum covid19 pun sudah jobless. Kenapa jobless ? karena ndak nglamar-nglamar pekerjaan. Kok ? Iya, terakhir resign dari kerja sudah bertekad untuk self employment, mencoba mandiri. Tapi apa daya, setahun dua tahun waktu berlalu, kenyataan ndak semulus yang diinginkan.
Nah, giliran awal tahun kemarin ada yang nawari pekerjaan, keburu wabah covid19 datang menyerang. Semua planning berubah, project-project dibekukan. Otomatis posisi yang lowong untuk sementara dipending. Perusahaan fokus pada penanganan covid19 terlebih dahulu. Yo wis, next semoga lebih baik.
Yup, di akhir Februari seorang mbak-mbak headhunter menawari pekerjaan di sebuah perusahaan pertambanan/mining ternama di negeri ini. Surat lamaran pun saya kirimkan. Selang tak berapa lama jadwal interview pun mampir di inbox email google saya. Alhamdulillah, proses interview dengan 4 orang user plus staf HRD berjalan lancar. Tahap penawaran salary kemudian saya lalui. Cukup optimis sebenarnya, namun setelah saya telepon karena sudah beberapa bulan gak ada kabar, rasa optimis itupun seketika terbang begitu saja. Terbang bersama badai covid19 yang tak kunjung berlalu. Posisi yang ditawarkan kemarin sementara dipending terkait dengan wabah covid19 ini.
Posisi saya pun ndak berubah, masih jobless dan berburu peluang demi peluang untuk bertahan hidup. Salah satunya ya di LinkedIn, jejaring sosial untuk para profesional yang sudah saya buat sejak tujuh tahun (atau mungkin malah lebih) yang lalu. Akun yang awalnya sekedar formalitas saja, saya coba optimasi semampunya. Harapan tentunya agar lebih menjual, lebih bisa bersaing, electabilitas meningkat dan menarik bagi para head hunters.
Kemudian dari LinkedIn, bergeser ke blog ini. Sama juga fungsinya, sebagai booster job seeker buat saya, etalase selain LinkedIn. Pastinya lebih komplit, lebih mendalam, dan lebih tuntas dibandingkan LinkedIn. Namanya juga punya sendiri, lebih bebas, lebih longgar, lebih bisa ‘semaunya’… berbeda dengan LinkedIn yang statusnya cuma numpang aja. Semua-mua terbatas, khususnya kalau mo nulis postingan, terbatas hanya beberapa karakter huruf saja. Betul, ada kolom artikel, hanya saja saya belum terbiasa memakainya.
Itu aja ? nope… ya sesuai deskripsi blog. Semua-mua mungkin akan bisa ditemukan di sini. Berbagi pengalaman hidup, kerja, cita-cita, cinta… dan secangkir kopi. Tujuannya cuman satu, biar head hunters pada gak kebanyakan nanya kalau pas lagi interview. Simpel… (just kidding)
