ðððĨðð ðððĨðð ðððĨðð ?

Mengamati data dari Badan Pusat Statistik berikut, terlihat jelas bahwa negara masih sangat tergantung kepada rakyatnya. Tergantung pada jerih payah keringat dari rakyatnya. Bayangkan saja hampir 100% pendapatan negara didapat dari memunguti pajak. Sebuah sistem setoran rakyat kepada pemerintah. Sampai di sini aura kolonialisme begitu kental. Mirip dengan suasana Istana Negara yang dibangun oleh kolonial Pemerintah Belanda.
Jadi pendapatan negara sangat tergantung dari setoran rakyat yang bekerja dan bukan dari negara yang bekerja. Sekali lagi dari rakyat yang bekerja. Sehingga kerja…kerja…kerja !!! terbukti hanyalah jargon omong kosong yang begitu diglorifikasi selama sepuluh tahun terakhir. Kenyataannya nol puthul…
Karena bagaimanapun definisi bekerja adalah menambah pendapatan bukan menambah hutang.
Jika memang Negara benar-benar bekerja, maka komponen pendapatan negara tidak akan seperti grafik yang terlampir. Sebagian besarnya mungkin akan didapat dari hasil pemberdayaan Sumber Daya Alam, keuntungan BUMN, atau yang lain… dan bukan dari pajak. Bukan dari memunguti rupiah demi rupiah dari rakyatnya.
Ironisnya, manakala kita terlalu berisik menyoal kinerja negara, akan selalu ada pertanyaan absurd… “ððð ðððð ððð
ðð ðððð ððððððð ððððð
ð ðððððð?”. Padahal hampir semua uang yg di kantong pemerintah itu nyata-nyata diambil dari kita.
Lucu bukan?
